Sumatera Barat ialah rumah bagi etnis Minangkabau, walaupun wilayah etika Minangkabau sendiri lebih luas dari wilayah administratif Provinsi Sumatera Barat ketika ini. Provinsi ini berpenduduk sebanyak 4.846.909 jiwa dengan lebih banyak didominasi beragama Islam. Provinsi ini terdiri dari 12 kabupaten dan 7 kota dengan pembagian wilayah administratif setelah kecamatan di seluruh kabupaten (kecuali kabupaten Kepulauan Mentawai) dinamakan sebagai nagari.Menhir watu besar atau megalit terletak di Kab.50 kota. Berikut ini Daftar beberapa situs peninggalan sejarah yang ada di Propinsi Sumatera Barat (Sumbar):
- Balai saruang terletak di negri pariangan padang panjang
- Batu batikam Kab Tanah datar
- Benteng ford de Cook
- Lubang jepang di Bukittinggi
- Istana Pagaruyung terletak di kab Tanah Datar
- Makam Syeh Burhanuddin kab Padang Pariaman
- Menhir watu besar atau megalit terletak di Kab.50 kota
- Prasasti watu basurek di Tanah Datar
- Tugu PDRI di Kab 50 Kota
1. Balai saruang
![]() |
| Balai Saruang |
![]() |
| Balai nanpanjang |
2. Batu batikam
Batu Batikam ialah salah satu benda cagar budaya bersejarah di Jorong Dusun Tuo, Nagari Lima Kaum, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Jika diartikan kedalam Bahasa Indonesia, Batu Batikam berarti watu yang tertusuk. Menurut sejarah, lubang atau bacokan yang ada di tengah watu itu merupakan bekas dari bacokan keris Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Luas situs cagar budaya Batu Batikam ialah 1.800 meter persegi, dulu berfungsi sebagai medan nan bapaneh atau tempat bermusyawarah kepala suku. Susunan watu disekeliling watu batikam mirip sandaran tempat duduk, berbentuk persegi panjang melingkar. Pada bab tengah terdapat watu batikam dari materi batuan Andesit. Batu ini berukuran 55 x 20 x 40 sentimeter, dengan bentuk hampir segi tiga. Prasasti Batu Batikam menjadi salah satu bukti keberadaan Kerajaan Minangkabau di zaman Neolitikum. Batu batikam merupakan watu tertusuk yang melambangkan pentingnya perdamaian dan musyawarah-mufakat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
| Batu batikam |
3. Benteng fort de Cook
![]() |
| Benteng fort de Cook |
Benteng ini didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun 1825 pada masa Baron Hendrik Merkus de Kock sewaktu menjadi komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda, alasannya ialah itulah benteng ini populer dengan nama Benteng Fort De Kock. Benteng yang terletak di atas Bukit Jirek ini dipakai oleh Tentara Belanda sebagai kubu pertahanan dari gempuran rakyat Minangkabau terutama semenjak meletusnya Perang Paderi pada tahun 1821-1837. Di sekitar benteng masih terdapat meriam-meriam kuno periode periode ke 19. Pada tahun-tahun selanjutnya, di sekitar benteng ini tumbuh sebuah kota yang juga berjulukan Fort de Kock, kini Bukittinggi.
4. Lubang Jepang
![]() |
| Bagian dalam lubang Jepang |
Sebelumnya, Lubang Jepang dibangun sebagai tempat penyimpanan perbekalan dan peralatan perang tentara Jepang, dengan panjang terowongan yang mencapai 1400 m dan berkelok-kelok serta mempunyai lebar sekitar 2 meter. Sejumlah ruangan khusus terdapat di terowongan ini, di antaranya ialah ruang pengintaian, ruang penyergapan, penjara, dan gudang senjata.
Diperkirakan puluhan hingga ratusan ribu tenaga kerja paksa atau romusha dikerahkan dari pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan untuk menggali terowongan ini. Pemilihan tenaga kerja dari luar daerah ini merupakan taktik kolonial Jepang untuk menjaga kerahasiaan megaproyek ini. Tenaga kerja dari Bukittinggi sendiri dikerahkan di antaranya untuk mengerjakan terowongan pertahanan di Bandung dan Pulau Biak.
Lubang Jepang mulai dikelola menjadi objek wisata sejarah pada tahun 1984, oleh pemerintah kota Bukittinggi. Beberapa pintu masuk ke Lubang Jepang ini diantaranya terletak pada daerah Ngarai Sianok, Taman Panorama, di samping Istana Bung Hatta dan di Kebun Binatang Bukittinggi.
5. Istana Pagaruyung
| Istana Pagaruyung |
Istano Basa yang berdiri kini sebetulnya ialah replika dari yang asli. Istano Basa orisinil terletak di atas bukit Batu Patah dan terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804. Istana tersebut kemudian didirikan kembali namun kembali terbakar tahun 1966.
Proses pembangunan kembali Istano Basa dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu, Harun Zain. Bangunan gres ini tidak didirikan di tapak istana lama, tetapi di lokasi gres di sebelah selatannya. Pada final 1970-an, istana ini telah sanggup dikunjungi oleh umum.
Kebakaran 2007 - Pada tanggal 27 Februari 2007, Istano Basa mengalami kebakaran jago jawaban petir yang menyambar di puncak istana. Akibatnya, bangunan tiga tingkat ini hangus terbakar. Ikut terbakar juga sebagian dokumen, serta kain-kain hiasan. Diperkirakan hanya sekitar 15 persen barang-barang berharga yang selamat. Barang-barang yang lolos dari kebakaran tersebut kini disimpan di Balai Benda Purbakala Kabupaten Tanah Datar. Harta pusaka Kerajaan Pagaruyung sendiri disimpan di Istano Silinduang Bulan, 2 kilometer dari Istano Basa.
Sementara itu, biaya pendirian kembali istana ini diperkirakan lebih dari Rp 20 miliar.
6. Makam Syeh Burhanuddin
![]() |
| Makam Syeh Burhanuddin |
Baca juga: "Burhanuddin Ulakan - Penyebar Islam di Kerajaan Pagaruyung"
Burhanuddin Ulakan Pariaman atau dikenal dengan sebutan Syeikh Burhanuddin Ulakan (lahir tahun 1646 di Sintuk, Sintuk Toboh Gadang, Kabupaten Padang Pariaman - meninggal 20 Juni 1704 pada umur 58 tahun) ialah ulama yang kuat di daerah Minangkabau sekaligus ulama yang mengembangkan Islam di Kerajaan Pagaruyung. Selain itu ia populer sebagai hero pergerakan Islam melawan penjajahan VOC. Ia juga dikenal sebagai ulama sufi pengamal (Mursyid) Tarekat Shatariyah di daerah Minangkabau, Sumatera Barat.
Syeikh Burhanuddin memimpin pesantren tidak begitu lama, setelah sepuluh tahun memimpin ia meninggal. Kemudian, pesantren tersebut dilanjutkan di bawah kepemimpinan puteranya, Syeikh Abdullah Faqih.
7. Menhir watu besar atau megalit
| Menhir di Kab. 50kota |
Batu besar peninggalan zama Megalitikum ini dijadikan Objek Cagar Budaya dengan nama Kawasan megalit Belubus dan Kawasan Megalit maek.
8. Prasasti Batu Basurek [Sumber]
![]() |
| Batu Basurek |
Prasasti ini ditulis memakai abjad jawa kuno dalam bahasa sanskerta. Isinya bercerita perihal Raja Adityawarman sebagai penguasa negeri emas yang murah hati dan penuh belas kasih. Diperkirakan prasasti ini ditulis pada tahun 1300-an masehi. Batu ini terletak di atas makam Raja Adityawarman dengan goresan pena kuno. Lebar watu basurek yaitu 25 cm dengan tinggi 80 cm, ketebalan 10 cm dan berat 50 kg.
9. Tugu PDRI
| Tugu PDRI |
10. Prasasti Kuburajo
![]() |
| Prasasti Kuburajo |
Adityawarman merupakan pelanjut dari Dinasti Mauli penguasa pada Kerajaan Melayu yang sebelumnya beribu kota di Dharmasraya, dan dari manuskrip pengukuhannya ia menjadi penguasa di Malayapura Swarnnabhumi atau Kanakamedini pada tahun 1347 dengan gelar Maharajadiraja Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa, dan di kemudian hari ibu kota dari kerajaan ini pindah ke daerah pedalaman Minangkabau.
Prasasti yang ditinggalkan oleh Adityawarman:
- Batu Nisan Raja Adityawarman di Limokaum Batusangkar, bertuliskan tahun 1356.
- Patung Adityawarman ditemukan oleh pemerntah Hindia Belanda di Padangrocok erat sungai Lansek, yang ketika ini disimpan di Museum Nasional Jakarta.
- Prasasti Adityawarman dari Suroaso ( Batusangkar ).
Berbagai sumber






