Berikut ini beberapa Peninggalan Sejarah Provinsi Lampung:
- Bangunan Dinas Kesehatan
- Batu Kepapang di Kenali
- Buay Pernong
- Gedong Aer
- Gedung Daswati
- Istana Skala Brak
- Masjid al-Anwar
- Monumen peringatan meletusnya gunung krakatau
- Museum Lampung
- Penjagalan Hewan
- Prasasti Batu Bedil (akhir masa ke 9 atau 10)
- Prasasti Bungkuk (akhir masa ke 7)
- Prasasti Dadak / Bataran Guru Tuha (abad ke 15)
- Prasasti Hujunglangit/ Bawang (akhir masa ke 10)
- Prasasti Palas Pasemah (akhir masa ke 7)
- Prasasti Tanjung Raya I (sekitar masa ke 10)
- Prasasti Ulubelu (abad ke 14)
- Rumah Milik Japffa Comfeed
- Taman Purbakala Pugung Raharjo
1. Bangunan Dinas Kesehatan
![]() |
| Bangunan dinas kesehatan Lampung |
Orientasi bangunan mengarah ke Timur jalan Kesehatan. Untuk denah bangunan empat persegi panjang digabung membentuk huruf E. langgam bangunan berkesan kokoh, monumental, kesan yang dimunculkan oleh bangunan tersebut.bentuk atap limasan.
2. Batu Kepapang
Batu Kepapang ialah sebuah situs yang terletak di Pekon Kenali, Kecamatan Belalau. Situs ini berada di belakang SDN 1 Kenali. Pagar semen mengelilingi areal situs yang ditumbuhi tanaman cokelat, pisang, dan banyak sekali tanaman kebun. Situs ini terletak di tanah penyimbang (sai batin dalam bahasa setempat).
Di sini terdapat sebuah marmer bertuliskan "Situs Batu Kepapang" yang ditandatangani Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. Marmer ini ditempel di pagar tembok yang gres dibuat. Menurut warga, situs ini nyaris terbengkalai. Baru dipagar sesudah diberi tunjangan Gubernur Rp5 juta.
Ada dua riwayat Batu Kepapang. Pertama, dongeng yang menyatakan jikalau situs ini peninggalan masyarakat Tumi yang merupakan nenek moyang orang Lampung yang tinggal di Kerajaan Skalabrak.
Kisah kedua, Batu Kepapang digunakan pada zaman kemerdekaan untuk mengadili atau memotong orang-orang. Namun, kisah ini tidak begitu dikenal masyarakat. Masih diragukan kebenarannya.
3. Buay pernong
![]() |
| Lamban gedung buay pernong |
Sebagian rumah adat ini masih asli, beberapa bab yang direnovasi lantaran rusak dikala gempa 1993 lalu. Di sini terdapat meriam besar buatan zaman Belanda yang berasal dari Krui. Selain itu, banyak benda kuno mirip lemari dan kursi.
Di belakang rumah adat ini terdapat makam Raja Selalau ketiga dan penerusnya. Di atas batu-batu yang menutupi makam, terdapat banyak sekali tanda berbentuk mirip binatang atau lambang tertentu.
Selain makam Raja Selalau, di bersahabat areal makam juga terdapat semacam benteng tanah berbentuk parit sedalam 1,5 - 3 meter. Benteng ini mengingatkan pada benteng parit yang terdapat di situs Pugungraharjo. Sayangnya, benteng parit ini belum dipugar instansi terkait atau diteliti lebih lanjut.
4. Gedong Aer
![]() |
| Gedong Aer |
Saat itu, tepatnya 1827 Pemerintah Belanda yang merasa perlu memenuhi kebutuhan logistik di Lampung, merasa perlu untuk menciptakan sebuah menara dan bangunan yang sanggup dijadikan sebagai tampungan cadangan air yang merupakan kebutuhan primer.
Setelah Belanda hengkang dari Indonesia dan digantikan Jepang, bangunan ini juga turut difungsikan sebagai pemasok air utama. hingga dikala ini bangunan ini juga masih sanggup berfungsi hingga sanggup dikelola oleh PDAM.
5. Gedung Daswati
![]() |
| Gedung Daswati |
Rumah ini dulunya milik Kolonel Achmad Ibrahim. Pernah menjadi kantor Front Nasional (FN), organisasi massa yang dibuat Bung Karno sebagai bab dari pemerintah untuk membangun republik paska perang kemerdekaan.
Daswati I merupakan cikal bakal pemerintahan provinsi. Daswati I Lampung yang gres melepaskan diri dari Daswati I Sumatera Selatan gres mempunyai Daerah Tingkat II Lampung Utara, Lampung Tengah, Lampung Selatan, dan Kotapraja Tanjungkarang-Telukbetung (embrio Kota Bandar Lampung).
Upacara serah terima penyerahan kewenangan pemerintah Daerah Swatantra Tingkat (Daswati) I Sumatera Selatan kepada Daswati I Lampun berlangsung pada tanggal 18 Maret 1964.
6. Istana Skala Brak
![]() |
| Sultan Kepaksian Sekala Brak, dari kiri : Sultan Kepaksian Nyerupa, Sultan Kepaksian Bejalan Diway, Sultan Kepaksian Pernong, dan Sultan Kepaksian Belunguh |
Dikutipn dari situs Melayu Online, Kerajaan Skala Brak (Sekala Beghak) berdiri di Lampung sekitar masa ke-3 Masehi dengan pemimpinnya berjulukan Raja Buay Tumi (William Marsden, 2008). Nama Raja Buay Tumi diyakini sebagai pemimpin Suku Tumi, yakni salah satu bangsa pertama yang menempati tanah Lampung dan kemudian membangun peradaban di Skala Brak. Lokasi Kerajaan Skala Brak terletak di lereng Gunung Pesagi, Belalau, di sebelah selatan Danau Ranau, kini termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung.
Keberadaan Kerajaan Skala Brak dianggap sebagai simbol peradaban, kebudayaan, dan eksistensi orang Lampung. Penyebutan Lampung sendiri berasal dari kata Anjak Lambung yang artinya mengatakan tempat yang tinggi, yakni lereng Gunung Pesagi, gunung tertinggi di Lampung (Diandra Natakembahang, 2005). Keterangan ini merujuk bahwa sejarah orang Lampung sangat berkaitan dengan Skala Brak yang terletak di lereng Gunung Pesagi.
7. Masjid Al-Anwar
![]() |
| Masjid Al-Anwar |
Masjid Al Anwar dibangun di atas tanah seluas 6000 meter, terletak di Jalan Laksamana Malahayati No. 100, Kangkung, Teluk Betung Selatan, Pesawahan, Tlk. Betung Sel., Kota Bandar Lampung, Lampung.
Akibat letusan Gunung Krakatau, Masjid Al Anwar sempat rusak, namun bangunan ini kembali dibangun dan hingga dikala ini masih digunakan bahkan kemudian berkembang menjadi sentra pengkajian filsafat ilmu Islam. Pada masa usaha kemerdekaan, masjid ini berperan sebagai basis perlawanan rakyat ketika Belanda menduduki Lampung.
8. Monumen peringatan meletusnya gunung krakatau
![]() |
| Monumen peringatan meletusnya gunung krakatau |
Monumen peringatan meletusnya gunung krakatau terletak di jl. W.r. supratman telukbetung menempati lokasi taman (taman dipangga).
9. Museum Lampung
![]() |
| Museum Lampung |
Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di provinsi Lampung dan merupakan pujian masyarakat provinsi Lampung.
Letak museum ini cukup strategis alasannya ialah tak jauh dari sentra kota Bandar Lampung, yakni hanya 15 menit perjalanan.
Pembangunan Museum Lampung telah dimulai tahun 1975 dan peletakan kerikil pertama dilaksanakan tahun 1978. Akan tetapi, peresmiannya gres dilaksanakan pada 24 September 1988 dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, Prof. Dr. Fuad Hasan. Peresmian tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Aksara Internasional yang dipusatkan di PKOR Way Halim.
Ruwa Jurai yang diabadikan sebagai nama museum ini diambil dari goresan pena Sai Bumi Ruwa Jurai dalam logo resmi Provinsi Lampung diresmikan penggunaannya semenjak 1 April 1990. Memasuki era otonomi daerah, museum ini beralih status menjadi UPTD di bawah Dinas Pendidikan Provinsi Lampung.
10. Penjagalan / Rumah Potong Hewan (RPH)
![]() |
| Penjagalan / Rumah Potong Hewan (RPH) |
11. Prasasti Batu Bedil
![]() |
| Kiri: Prasasti Batu Bedil, Kanan: Prasasti Batu Tegak |
Prasasti Batu Bedil terletak di Dusun Batu Bedil, Desa Gunung Meraksa, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus.
Prasasti Batu Bedil dituliskan pada sebongkah kerikil yang berukuran tinggi ± 157 cm dan lebar 72 cm. Prasasti terdiri atas 10 baris dengan tinggi huruf sekitar ± 5 cm. Tulisan tersebut berada dalam satu bingkai. Pada bab bawah bingkai terdapat ukiran membentuk padma atau bunga teratai. Kondisi huruf sudah aus namun pada beberapa bab masih sanggup terbaca. Pada baris pertama terbaca Namo Bhagawate dan pada baris kesepuluh terbaca Swâhâ. Namo Bhagawate sebagai permulaan dan Swâhâ sebagai epilog memberi dugaan bahwa prasasti itu berkaitan dengan mantra. Bahasa yang digunakan ialah Sansekerta. Prasasti ini tidak berangka tahun. Berdasarkan paleografisnya mengatakan bahwa prasasti ini berasal dari selesai masa ke-9 atau awal masa ke-10. Selain tinggalan berupa prasasti, di Kompleks Prasasti Batu Bedil juga terdapat beberapa kerikil tegak.
12. Prasasti Bungkuk
![]() |
| Prasasti Bungkuk |
Prasasti ini dipahatkan pada kerikil andesit, dengan mempunyai ukuran tinggi 63 cm, tebal 63 cm, diameter atas 70 cm, dan diameter bawah 61 cm. Keadaannya sudah aus sehingga tidak sanggup terbaca dengan lengkap. Prasasti ini terdiri dari 13 baris beraksara Pallawa, dan berbahasa Melayu Kuno.
Dari goresan pena yang masih terang dan dibaca oleh Boechari dan Hasan Djafar, diketahui bahwa prasasti ini berisi mengenai sumpah dan kutukan bagi mereka yang tidak tunduk dan berbuat jahat kepada Sriwijaya.
Berdasarkan paleografinya, prasasti ini diperkirakan berasal dari selesai masa ke-7 M, dan dikala ini prasasti aslinya berada di Rumah Informasi Taman Purbakala Pugungraharjo yang terletak di Desa Pugungraharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung. Sedangkan, di Museum Lampung juga terdapat replikanya yang dibuat pada tahun 1999 dengan No. Inventaris 3613.
13. Prasasti Dadak / Bataran Guru Tuha
![]() |
| Transkip Prasasti Dadak selesai masa ke-14. Ditulis di media kerikil memakai Aksara Lampung. [Koleksi Museum Negeri Provinsi Lampung.] |
Tulisan yang digunakan mirip dengan goresan pena Jawa Kuno selesai dari masa ke 15 dengan Bahasa Melayu yang tidak terlalu Kuno (Bahasa Melayu Madya). Prasasti Dadak/Bataran Guru Tuha merupakan peninggalan masa ke-15.
14. Prasasti Hujunglangit/ Bawang
![]() |
| Prasasti Hujung Langit |
15. Prasasti Palas Pasemah
![]() |
| Prasasti Palas Pasemah |
Taranskripsi prasasti: 1). Siddha kita hamwn wari awai. Kandra kayet ni pai hu[mpa an]; 2). nahuma ulu lawan tandrun luah maka matai tandrun luah wi[nunu paiihumapa]; 3). anhankairu muah. Kayet nihumpa unai tunai. Unmeteng[bahkti ni ulun]; 4). haraki unai tunai. Kita sawanakta dewata maharddhika san nidhana mangra[ksa yang kedatuan]; 5). di sriwijaya. [kita tui tandrun luah wanakata dewata mula yang parsumpaha[n pawaris. kada]; 6). ci urang di dalangna bhumi ajnana kadatuanku ini parawis. Drohaka wanu [n. samawuddhi la]; 7). wan drohaka. Manujari drohaka. Niujari drohaka. tahu din drohaka [Tida ya marpadah]; 8) tida ya bhakti tatwa arjjawa di yaku dnan di yang nigalar kku sanyasa datua niwunuh ya su [mpah ni]; 9). Suruh tapik mulang parwwa [dnan da] tu sriwijaya talu muah ya dnan gotra santanana. Tathapi sa [wana]; 10). kna yang wuatna jahat maka lanit urang maka sakit maka absurd mantraganda wisaprayoga upuh renta ta [mwal sa]; 11). ramwat kasihan wasikarana ityewarnadi janan muwah ya siddha pulang ka ya muwah yang dosana wu [a]; 12). tna jahat inan. Ini grang kadaci ya bhakti tatwa arjjwa di yaku dnan di yang nigalarkku sanyasa datua santi muah; 13). wuattana dnan gotra santanana smarddha swastha niroga niru padrawa subhiksa muah yang wanuana parawis.
16. Prasasti Tanjung Raya I
![]() |
| Prasasti Tanjung Raya I |
17. Prasasti Ulubelu
Prasasti Ulubelu ialah salah satu dari prasasti yang diperkirakan merupakan peninggalan Kerajaan Sunda dari masa ke-15 M, yang ditemukan di Ulubelu, Desa Rebangpunggung, Kotaagung, Lampung pada tahun 1936. Prasasti Ulubelu dikala ini disimpan di Museum Nasional, dengan nomor inventaris D.154.
Prasasti Ulubelu digoreskan pada kerikil alam (kecil). Aksara yang tertulis pada prasasti Ulubelu sangat tipis dan kecil, keadaan aksaranya juga sangat aus serta rusak. Batu pada bab tengah patah, namun masih menunjukkan gaya dan bentuk ibarat huruf Sunda Kuno.
Prasasti dipahatkan pada sebuah kerikil kecil berukuran 36 x 12,5 cm, terdapat 6 baris goresan pena dengan huruf Jawa Kuno dan berbahasa Melayu Kuno.Prasasti dipahatkan pada sebuah kerikil kecil berukuran 36 x 12,5 cm, terdapat 6 baris goresan pena dengan huruf Jawa Kuno dan berbahasa Melayu Kuno.
Isi prasasti berupa mantra undangan tolong kepada kepada dewa-dewa utama, yaitu Batara Guru (Siwa), Brahma, dan Wisnu, serta selain itu juga kepada yang kuasa penguasa air, tanah, dan pohon semoga menjaga keselamatan dari semua musuh.
18. Rumah Milik Japffa Comfeed
![]() |
| Rumah Milik Japffa Comfeed |
Bentuk skema bangunan segi empat, dengan langgam mengikuti Tropis, yang dipadu detail interior gaya Kolonial Bngunan berbentuk limasan.
19. Taman Purbakala Pugung Raharjo
![]() |
| Taman Purbakala Pugung Raharjo |
Ditemukan pada tahun 1957, situs ini menjadi salah satu situs peninggalan sejarah yang cukup berharga. Situs arkeologi seluas 30 hektar ini merupakan peninggalan zaman Hindu dan Budha. Di dalamnya terdapat Punden Berundak, Arca, Prasasti, Batu Mayat atau Batu Kandang, Altar Batu, Batu Berlubang, Benteng Parit Primitif sepanjang 1,2 kilometer, dan Dolmen. Selain itu, beberapa keramik peninggalan dinasti Han, Sung, dan Ming masih sanggup ditemukan di taman purbakala ini.
Lokasi tempat situs berada kini dikelola sebagai Taman Purbakala Pugung Raharjo, terletak sekitar 52 km arah timur dari Kota Bandar Lampung.
Sumber:
















